Cara Menentukan Harga Desain Grafis (versi Arvendo Mahardika)

Ilustrasi dari negliadesign.com

Sebenarnya ide dari postingan ini awalnya dari pertanyaan salah satu netizen ketika saya bikin QnA di instastory. Yah, karena mumpung lagi nganggur selepas kuliah. Ada yang tanya, “Gimana cara menetukan harga desain?”. Tapi sebelum itu, kita harus bedah alasannya kenapa kok kita sendiri yang harus menentukan harga desain.

Alasan Kenapa Kok Kita yang Menentukan Harga Desain Sendiri
Sejauh yang saya ketahui, Asosiasi Desain Grafis Indonesia atau asosiasi/perkumpulan profesi desainer grafis lainnya tidak mematok harga jasa desain grafis (atau mungkin belum). Alasannya, mungkin karena desain grafis adalah jasa yang memiliki banyak banget cara/teknik yang dipakai dalam mencapai tujuannya (yokpo iki njelasnoe aku bingung). Ada yang nggambar manual, ada yang makai stock design (semacam Freepik dkk) terus diedit, ada yang full nggambar dengan shape di komputer, dan sebagainya.
Belum lagi, aplikasi/penerapan desain grafis itu juga beragam. Ada desain brosur, banner (ini juga masih dibagi jadi X banner, banner biasa, ukurannya juga beragam), poster, kartu nama, ID card, dll. Belum lagi desain yang penerapannya nggak dicetak, kaya desain feed di medsos (caption-nya beda harga, lho).
Jadi, lumayan sulit juga buat menentukan agar desain-desain di Indonesia harus satu harga (karena sangat bervariasi tadi). Apalagi, daya beli masyarakat di Indonesia kan nggak merata di setiap daerah. Freelance/company desain (bukan cetak/percetakan ya) di daerah cenderung lebih murah menentukan harga ketimbang yang ada di Jakarta misalnya.

Metode Menentukan Harga Desain Grafis
1. Berdasarkan UMR/Standar Gaji (Cocok untuk Company)
Metode ini cocok untuk company, terutama yang masih baru merintis usaha. Kenapa UMR? Karena itu merupakan patokan tersederhana untuk penggajian.
Misalnya, UMR Kota Malang 2019 adalah Rp2.668.420. Kita kerja 5 hari seminggu = dalam sebulan 20 hari kerja, 8 jam kerja (anggap saja ini company). Berarti, rumus hitung-hitungannya untuk nemu harga desain per jamnya:
= Gaji / (jam kerja ✖ hari kerja)
= Rp2.668.420 / (8 ✖ 20)
= Rp16.677,625 per jam

2. Berdasarkan Biaya Modal (Cocok untuk Freelancer)
Kalo metode yang ini, cocoknya buat freelancer. Karena jadi freelance, kita harus menyiapkan alat-alat semuanya sendiri, termasuk biaya pendidikan kita. Mulai dari modal awal kita harus bener-bener fight. Jadi, perhitungannya memang bakal agak beda dari yang nomer 1.
Pertama, yang kita hitung adalah modal kita dulu. Anggap saja gini:
Hitungan 1. Modal Alat dan Pendidikan
1. Laptop Toshiba Satellite L840 (wes lawas pol) = Rp7.500.000
2. Biaya sekolah (SMK, 36 bulan ✖ Rp175.000) = Rp6.300.000
Total = Rp13.800.000

Nah, aku menghendaki balik modal/Return of Investment (ROI) harus dalam waktu 1 tahun. Jadi, akan ada hitungan biaya operasional selama setahun yakni:
Hitungan 2. Biaya Operasional
1. Listrik (12 ✖ Rp100.000) = Rp1.200.000
2. Gaji pokok (12 ✖ Rp1.500.000*) = Rp18.000.000
Total = Rp19.200.000
*1.500.000 diambil dari paket birudeun sing paling murah (paket Starter)

Jadi, total modalnya adalah:
Hitungan 3. Total Modal
1. Modal Alat dan Pendidikan = Rp13.800.000
2. Biaya Operasional = Rp19.200.000
Total = Rp33.000.000

Karena freelance, otomatis kita mengerjakannya di waktu yang tidak bertabrakan dengan aktivitas primer kita (sekolah, kuliah, dll). Anggap saja kerjanya 4 hari seminggu, yakni Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. 4 ✖ 52 (pekan) ✖ 8 (jam) = 1664 jam. Berarti, rumus hitung-hitungannya untuk nemu harga desain per jamnya:
= Total Modal / Jam Kerja
= Rp33.000.000 / 1664
= Rp19.831 per jam

Itu tadi baru harga per jam lho. Tinggal dikalikan aja sama berapa jam kita bekerja untuk sebuah desain.

Namun biasanya, produk-produk desain yang membutuhkan riset mendalam seperti logo, company profile, dan lain-lain memiliki biaya tambahan yang ditetapkan tersendiri.

Semoga bermanfaat! 😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *