Kamal Junaidi: Gugur Muda Usia Demi Kebanggaan di Dada

Persijap Jepara baru saja menjuarai Liga 3 2019 setelah melumat PSKC Kota Cimahi dengan skor meyakinkan 3-1. Pertandingan yang berlangsung sengit itu memastikan Laskar Kalinyamat membawa pulang trofi jawara Liga 3 kembali ke Bumi Kartini, sekaligus mengantarkan mereka ke Liga 2 2020. Sebuah kebangkitan.

Jika kita menoleh ke belakang, Persijap termasuk tim senior yang disegani. Memang, belum ada prestasi hebat bagi Persijap di kasta tertinggi. Namun klub yang pernah dibela oleh Beto Goncalves musim 2008–2009 dan 2010–2011 ini pernah mampu mengalahkan tim-tim besar di Divisi Utama seperti Persipura Jayapura, PSM Makassar, dan PSIS Semarang. Bahkan untuk PSIS Semarang, Persijap pernah mengalahkannya dua kali di Copa Indonesia dengan skor 2-0 di Jepara dan 3-2 di Semarang.

Semenjak terhempas ke Liga 2 pada musim 2014 dan ditambah lagi terperosok ke Liga 3 di musim selanjutnya, publik sepak bola nasional sudah semakin jarang mendengar namanya. Nama klub asal kota ukir ini kembali menyeruak semenjak prestasi moncernya di Liga 3 2019. Namun, saya kali ini tidak akan banyak membahas tentang perkembangan tim Laskar Kalinyamat, namun tentang salah satu penggawanya yang sangat legendaris di kalangan masyarakat kota ukir: Kamal Junaidi. Bagi orang awam, mungkin nama Kamal Junaidi lebih dikenal sebagai nama salah satu stadion di Jepara. Tapi, ternyata alasan di balik penyematan nama itu sungguh heroik.

Saya di depan Stadion Kamal Junaidi. (Dok. Pribadi)

Kompetisi antarklub di Indonesia di awal-awal hingga 1970-an tak seramai sekarang. Di wilayah eks-karesidenan Pati sendiri, baru sejak tahun 1972 diadakan putaran kompetisi tingkat eks-Karesidenan Pati, yang dinamakan Piala Makutarama. Ajang tersebut, menurut beberapa sumber yang saya himpun, mampu menyedot animo yang cukup tinggi dari masyarakat kala itu. Sampai pada hari Senin, 20 Agustus 1973, di Salatiga digelar partai puncak perebutan Piala Makutarama. Derby pesisir utara, Persijap Jepara dan Persipa Pati berjuang keras membela tim kebanggan mereka untuk menjadi juara.

Sore itu, langit cukup cerah dan tidak ada tanda-tanda hujan akan turun saat sang pengadil lapangan, Dardiri, asal Salatiga meniup peluit kick-off babak pertama. Di babak pertama, seorang gelandang muda Persijap, Kamal Junaidi yang saat itu masih belum genap berusia 19 tahun menunjukkan kelasnya sebagai juru serang andal, meskipun bukan posisi aslinya. Gerakannya lincah, agresif, dan variatif. Setidaknya, jika kita boleh menggambarkannya di era sekarang, kita bisa merujuk Makan Konate, gelandang Arema FC yang mampu menjadi salah top skor Liga 1 2019 karena naluri serangnya yang tinggi. Salah satu penyerang sayap Persijap di era itu, Kiswanto, bahkan menyebut bahwa Kamal yang merupakan adik kelas SMA-nya itu punya kemampuan lebih dari cukup untuk masuk skuat timnas U-19 pada era sepakbola modern ini. Dalam babak pertama, tendangan Kamal berhasil menjebol pertahanan Laskar Saridin dan kedudukan menjadi 1-0 hingga turun minum.

Langit pun bergelayut saat kaki Kapten tim Persijap, Syarif KS, menyepak bola sebagai tanda dimulainya babak kedua. Tetiba muncul langit gelap dan mendung yang diikuti dengan gemuruh guntur dari langit. Suara halilintar datang bertubi-tubi memekakkan ribuan pasang telinga yang memadati stadion sore itu. Tak disangka, beberapa saat setelah sepak pertama itu, di lapangan nampak api berkorbar.

Hampir semua pemain dari kedua kesebelasan tergeletak, termasuk wasit Dardiri. Kapten Syarif masih kaku di tengah lapangan, tak paham dengan apa yang baru terjadi. Tubuh Kamal Junaidi yang semula lincah, terlihat mengepulkan asap. Kaos kaki, celana, dan pakaianya terkoyak api. Tujuh anggota skuad Laskar Kalinyamat lainnya mengalami luka bakar yang cukup serius. Hanya Kamal Junaidi, pemuda asal Kelurahan Panggang yang gugur di tengah lapangan hijau. Tragedi api halilintar itu mengakhiri karier sang striker.

Makam Sang Legenda Kamal Junaidi. (Sumber: Facebook)

Namun, hembusan nafas terakhirnya itu mengantarkan Persijap menorehkan prestasi yang gemilang. Kedudukan 1-0 itu bertahan hingga akhir dan menjadikan Persijap berhak memboyong Piala Makutarama ke kota ukir. Rasa suka sekaligus duka yang menggumuli skuad dan masyarakat Jepara saat itu, bercampur menjadi satu. Untuk mengapresiasi kiprah sang pahlawan, nama Kamal Junaidi kemudian diabadikan menjadi nama stadion markas kebanggaan Laskar Kalinyamat. Hal itu dimaksudkan untuk mengenang pengorbanan, semangat, serta prestasi yang pernah diukir pahlawan sepak bola bagi masyarakat bumi Kartini itu.

Konser Nissa Sabyan di Stadion Kamal Junaidi beberapa waktu lalu. (Sumber: Radar Kudus)

Di era sekarang di mana ketika kegiatan Persijap banyak difokuskan di stadion baru, Gelora Bumi Kartini, Stadion Kamal Junaidi masih eksis sebagai tempat kegiatan masyarakat Jepara, meski di sana-sini nampak dimakan usia dan perlunya perawatan lebih. Kendati sudah tidak lagi menjadi home base Persijap, SKJ masih sering menggelar event-event olahraga dan non-olahraga di berbagai tingkatan. Terakhir, stadion tanpa lintasan atletik yang berkapasitas 15.000 orang ini digunakan untuk kegiatan Popda Kabupaten Jepara pada November 2019 lalu, serta kursus kepelatihan lisensi D PSSI pada Desember 2019.

Artikel ini telah terbit di pegiatbola.id pada Januari 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *