Milenial vs Gen-Z vs Gen Alpha: Siapa Sejatinya?

Halo teman-teman kelahiran 1996-2010, kita bukan milenial!

Saya cukup tergelitik saat membaca artikel Vice Indonesia beberapa hari lalu yang bertajuk Om-Tante, Tolong Berhenti Menjuluki Semua Anak Muda Sebagai ‘Milenial’. Beberapa waktu lalu juga heboh soal pernyataan Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri soal kaum ‘milenial’. Ia mengatakan bahwa pemerintah tak seharusnya memanjakan kaum ini karena dinilai minim kontribusi kepada bangsa akibat kebanyakan demo.

Istilah milenial yang awalnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan saintifik ini kemudian mengalami “perluasan makna yang kebablasan” ke semua anak muda yang generasinya di bawah orang-orang tua, atau om-tante kita. Kesalahkaprahan ini sangat tampak jelas di medium-medium publik, seperti penamaan program-program pemerintah dengan embel-embel milenial untuk mewadahi anak-anak sekolah, misal Tani Milenial atau seperti dalam link ini: generasi milenial yang tergabung dalam ikatan pelajar dan mahasiswa, menyatakan siap mendukung program pembangunan yang akan dilaksanakan oleh pemkot.

Apalagi, istilah ini tak jarang digunakan dengan marah-marah dan sering kali untuk melabeli stereotipe anak muda: pemalas, susah diatur, tidak punya komitmen, dan lain sebagainya.

Sebenarnya siapa sih milenial itu? Benarkah semua anak muda, pelajar, mahasiswa, bahkan anak-anak atau kids zaman now adalah milenial?

Siapakah Milenial itu?

Menilik The Pew Research Center, kaum milenial didefinisikan sebagai orang yang lahir dari tahun 1981 hingga 1996. Milenial yang juga dikenal sebagai generasi Y, memiliki karakteristik yang beragam berdasarkan kondisi wilayah maupun sosial-ekonomi. Generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Pada sebagian besar wilayah di dunia, pengaruh pembangunan dari generasi milenial ditandai dengan peningkatan liberalisasi politik dan ekonomi; meskipun pengaruhnya masih diperdebatkan.

Merujuk definisi di atas, tentunya sudah jelas, kids zaman now yang lahirnya di atas tahun 1996 (termasuk saya), apalagi yang sejak balita sudah dicekoki smartphone oleh orang tuanya, bukan milenial dong.

Lantas masuk ke mana anak-anak yang sekarang rata-rata sedang merintis karier awal, masih kuliah, SMA, ataupun masih SMP ini?

Dilansir dari Tarrant Institute for Innovative Education at the University of Vermont, anak-anak sekolah ini tergolong dalam Generasi Z. Generasi Z yang lahir setelah milenial ini ialah orang-orang yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1998 sampai 2010.

Karakteristik Generasi Z

Dikutip dari businessinsider.com, generasi Z memiliki sifat independen, bebas, keras kepala, pragmatis, dan terburu-buru. Generasi ini sangat akrab dengan dunia digital dan internet, bahkan mungkin tidak bisa hidup tanpa keduanya.

Yang khas lagi dari generasi ini adalah self educator. Mereka bisa belajar secara otodidak tentang segala sesuatu dari internet, ditambah pula di Youtube banyak sekali video tutorial yang bisa dijadikan acuan. Sebagai seorang guru Desain Grafis, saya menemukan banyak sekali siswa saya yang jauh lebih jago menggunakan software pengolah gambar daripada saya. Ditelusuri lebih lanjut, ternyata memang mereka belajar dari YouTube dan di media sosialnya mengikuti berbagai desainer grafis kenamaan yang sering memberi tutorial dan tips desain.

Generasi Alpha: Generasi Setelah Gen-Z

Nah, kalau generasi setelah gen-Z, disebutnya generasi alpha. Generasi yang lahir pada rentang 2011 hingga 2025. Menurut McCrindle Research, mereka digadang-gadang akan menjadi generasi terkaya, paling berpendidikan, dan paling melek teknologi dalam sejarah.

Salah satu yang menjadi ciri khas generasi alpha ini ialah mereka sudah meninggalkan jejak digital bahkan sebelum mereka sadar digital. Rafathar dan Gempita adalah contohnya, diperkuat dengan para orang tua sekarang yang gemar memosting foto anak balitanya ke media sosial.

Jadi, sudah tahu penggunaan kata milenial tepatnya untuk siapa? Jangan lupa artikel di-share ke grup WhatsApp om-tante, ya.

Salam hangat dan selamat menyambut tahun baru,
Arvendo Mahardika, PMEC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *